BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG MASALAH
Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) sebagai mata
pelajaran yang wajib dibelajarkan pada jenjang Sekolah Dasar, mempunyai peranan
yang sangat penting dalam upaya mempersiapkan siswa sedini mungkin. Pendidikan IPA
menekankan pada pemberian pengalaman langsung dan kegiatan praktis untuk
mengembangkan kompetensi agar siswa mampu menjelajahi dan memahami alam sekitar
secara ilmiah. Pendidikan IPA diarahkan untuk mencari “tahu” dan “berbuat”
sehingga dapat membantu siswa untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam
tentang alam sekitar (Depdiknas, 2007:V). Pembelajaran IPA SD/MI
merupakan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis untuk menguasai
pengetahuan, fakta-fakta, konsep-konsep, prinsip-prinsip, proses penemuan, dan
memiliki sifat ilmiah.
Menurut Piaget (dalam Winataputra dkk, 2007:3.40)
perkembangan kognitif (kecerdasan) anak dibagi menjadi empat tahap, yaitu tahap
sensori motor (0-2 tahun), pre-operasional (2-7 tahun), konkret operasional (7-11 tahun), dan formal operasi (11-15 tahun). Siswa SD
termasuk dalam tahap konkret operasional, dimana dalam tahap ini siswa sudah
mulai melakukan operasi, mulai dapat berfikir rasional dan segala kegiatan yang
dilakukan membutuhkan suatu pengalaman yang bersifat kongkrit. Oleh karena itu,
dalam pelaksanaan pembelajaran IPA, seorang guru harus dapat merumuskan suatu
metode pembelajaran yang dapat memberikan pengalaman langsung kepada siswa
sehingga materi yang disampaikan dapat dipahami secara utuh oleh siswa.
Meningkatkan kreativitas siswa, seorang guru harus
mengembangkan suatu metode dan metode pembelajaran yang bisa mewujudkan
semangat dan keaktifan siswa dalam proses belajar mengajar. Pembelajaran
mempunyai dua komponen yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain, yaitu
belajar dan mengajar. Belajar menunjukkan pada apa yang harus dilakukan oleh
peserta didik, sedangkan mengajar menunjukkan pada apayang dilakukan oleh
seorang guru sebagai pengajar dan pendidik. Guru merupakan salah satu faktor
yang sangat mempengaruhi keberhasilan pembelajaran. Oleh karena itu, hendaknya
guru menerapkan metode yang sesuai dengan kondisi kelas dan mata pelajaran.
Berdasarkan pengamatan di SD Karanganyar 01 khususnya siswa kelas
III, pembelajaran IPA di dalam kelas siswa kurang begitu antusias. Padahal guru
kelas sudah melakukan proses pembelajaran yang cukup baik. Kebanyakan siswa
hanya mendengarkan materi dari guru, siswa cuma bisa duduk dengan tenang di
tempat duduknya tanpa mau bertanya materi yang mungkin sulit dipahami. Keadaan
seperti ini dimungkinkan siswa takut bertanya kepada guru. Karena memang siswa
tidak memiliki keberanian untuk bertanya bahkan menjawab pertanyaan yang
diajukan oleh guru. Akibat dari keadaan tersebut kreativitas siswa yang
diperoleh kurang memuaskan. Menurut observasi awal yang dilakukan oleh
peneliti, bahwa kelas III memiliki skor rata-rata kreativitas rendah. Hal ini
ditunjukkan dengan skor rata-rata yaitu sebesar 2,6 (perincian skor rata-rata
kreativitas siswa dapat dilihat dilampiran tabel 3.3). Dimana kriteria untuk
kreativitas siswa menggunakan skor, yaitu: skor 1-1,99 merupakan kriteria
sangat rendah sedangkan skor >4,99 atau 5 untuk kriteria sangat tinggi.
Berdasarkan kenyataan yang ada, maka peneliti memberikan
solusi dengan menggunakan metode eksperimen untuk meningkatkan kreativitas
siswa. Pembelajaran IPA melalui eksperimen merupakan suatu pembelajaran yang mampu
melibatkan siswa secara langsung dan siswa akan menjadi lebih aktif dalam proses belajar
mengajar, sehingga melalui eksperimen pembelajaran bukan hanya teacher centered tetapi pembelajaran IPA
menjadi student centered.
Metode mengajar dalam pelajaran IPA banyak sekali ragamnya.
Kita sebagai pendidik tentu harus memiliki metode mengajar yang beraneka ragam,
dan disesuaikan dengan materi yang diajarkan, sehingga tujuan pengajaran yang
telah dirumuskan oleh pendidik dapat tercapai. Metode eksperimen adalah suatu
cara penyajian pelajaran dimana siswa melakukan percobaan dengan mengalami dan
membuktikan sendiri sesuatu yang dipelajari (Sudirman, 1991:163). Melalui
eksperimen dapat merangsang keingintahuan siswa terhadap suatu materi
pelajaran. Percobaan yang dilakukan membuat siswa mengalami secara langsung
sehingga siswa dapat menyimpulkan sendiri terhadap apa yang telah dilakukan serta
apa yang diperoleh siswa dapat membekas dalam ingatannya, seperti melakukan
percobaan dalam membuat karya sederhana.
Metode eksperimen dapat melatih siswa dapat berfikir ilmiah
(scien-tific thingking), siswa
termotivasi untuk mencari dan menemukan bukti serta jawaban terhadap suatu
masalah sehingga proses belajar yang membosankan dapat berubah menjadi suatu
proses pembelajaran yang efektif dan menyenangkan sehingga dapat meningkatkan
kreativitas siswa serta dapat menghilangkan dominasi guru pada saat proses
pembelajaran. Pokok bahasan yang dipilih dalam metode eksperimen adalah membuat
karya sederhana. Manfaat dari metode eksperimen berarti melibatkan siswa untuk
belajar mengembangkan kreativitasnya dalam jalinan kegiatan yang disusunnya
sendiri untuk menemukan sesuatu.
Berdasarkan uraian dan kenyataan di atas, maka metode
eksperimen dipikirkan dapat digunakan untuk menyelesaikan permasalahan di atas
melalui Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian ini bertujuan untuk
meningkatkan kreativitas siswa belajar IPA kelas III. Oleh karena itu, judul
penelitian ini adalah “Meningkatkan Kreativitas
Siswa Belajar IPA Kelas III Pokok Bahasan Membuat Karya Sederhana Melalui Metode
Pembelajaran Eksperimental”
1.2 RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan dari latar belakang
di atas, maka penulis akan merumuskan suatu masalah sebagai berikut:
1. Bagaimanakah
peningkatan kreativitas siswa dengan diterapkannya metode pembelajaran
eksperimental mata pelajaran IPA pada siswa kelas III pokok
bahasan membuat karya sederhana?
1.3 TUJUAN PENELITIAN
Berdasarkan dari permasalahan
di atas, penelitian ini bertujuan:
1. Untuk meningkatkan kreativitas
siswa pada mata
pelajaran IPA pokok bahasan membuat
karya sederhana melalui metode pembelajaran eksperimental
1.4 MANFAAT PENELITIAN
Penelitian
ini diharapkan bermanfaat bagi semua pihak diantaranya:
1. Guru memberikan
informasi tentang metode pembelajaran yang sesuai dengan materi IPA.
2. Siswa
meningkatkan motivasi pada mata pelajaran IPA
3. Sekolah memberikan
masukan bagi sekolah sebagai pedoman untuk mengambil kebijakan di sekolah
tersebut.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian
Belajar dan Pembelajaran
Belajar adalah kegiatan
berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam penyelenggaraan
jenis dan jenjang pendidikan. Hal ini berarti keberhasilan pencapaian tujuan
pendidikan sangat tergantung pada keberhasilan proses belajar siswa di sekolah
dan lingkungan sekitarnya. Menurut Hamalik (1990:21) belajar adalah suatu
perubahan tingkah laku yang baru dalam diri seseorang berkat pengalaman dan
latihan. Misalnya saja dalam pembelajaran IPA, siswa melakukan suatu eksperimen
(percobaan) untuk menemukan bukti kebenaran dari teori yang sedang
dipelajarinya. Sedangkan menurut Bell-Gredler (dalam Winataputra, 2008) belajar
adalah proses yang dilakukan oleh manusia untuk mendapatkan aneka ragam competencies, skills, and attitude. Kemampuan (competencies), keterampilan (skills), dan sikap (attitude) tersebut diperoleh secara bertahap dan berkelanjutan
mulai dari masa bayi sampai masa tua melalui rangkaian proses belajar sepanjang
hayat. Belajar yang efektif adalah melalui pengalaman. Dalam proses belajar,
seseorang berinteraksi langsung dengan objek belajar dengan menggunakan semua
alat indranya. Belajar ialah proses perubahan tingkah laku seseorang terhadap
situasi tertentu, yang disebabkan oleh pengalamannya yang berulang-ulang dalam
situasi itu, dimana perubahan tingkah laku itu tidak dapat dijelaskan
berdasarkan atas kecenderungan tanggapan bawaan, kematangan, atau
keadaan-keadaan sesaat seseorang (Hilgard dan Bower, 1975:2)
Pembelajaran
merupakan suatu kejadian, peristiwa, kondisi, dsb yang secara sengaja dirancang
untuk mempengaruhi siswa sehingga proses belajarnya dapat berlangsung dengan
mudah (Gagne dalam Mukminan, 2004:7). Pembelajaran juga merupakan suatu
kegiatan yang diselenggarakan untuk guru untuk membelajarkan siwa agar tahu
caranya memperoleh dan memproses pengetehuan, keterampilan dan sikap (Dimyati
& Mudjiono, 2002:157). Kegiatan belajar mengajar adalah satu kesatuan dari
dua kegiatan yang searah. Kegiatan belajar adalah kegiatan primer, sedangkan
kegiatan mengajar yaitu kegiatan sekunder yang dimaksudkan agar terjadi
kegiatan yang berjalan secara optimal. Dari pengertian-pengertian pembelajaran
di atas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran adalah suatu usaha sadar dari
guru untuk membuat siswa belajar yaitu terjadinya perubahan tingkah laku pada
diri siswa yang belajar, dimana perubahan itu membuat siswa memiliki kemampuan
baru yang berlaku dalam waktu yang relatif lama.
2.2 Pembelajaran IPA di SD
IPA
dapat didefinisikan sebagai ilmu tentang fenomena alam semesta. Pembelajaran
IPA menekankan pada pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar
peserta didik mampu memahami alam sekitar melalui proses “ mencari tahu” dan
“berbuat”, hal ini akan membantu peserta didik untuk memperoleh pemahaman yang
lebih mendalam. Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dapat dipandang sebagai produk dan
sebagai proses. Secara definisi, IPA sebagai produk adalah hasil temuan –
temuan para ahli saintis, berupa fakta, konsep, prinsip, dan teori – teori.
Sedangkan IPA sebagai proses adalah strategi atau cara yang dilakukan para ahli
saintis dalam menemukan berbagai hal tersebut sebagai implikasi adanya
temuan–temuan tentang kejadian–kejadian atau peristiwa–peristiwa alam. IPA
sebagai produk tidak dapat dipisahkan dari hakekatnya IPA sebagai proses (Sumber: http://latipduniailmiah.blogspot.com/2009/03/pembelajaran-ipa-sekolah-dasar-sd.html.
Menurut
Bernal dalam Darmajo(1992:4) IPA pada hakekatnya mempunyai 3 dimensi yakni
sebagai proses, produk, dan pemupuk sikap:
a. IPA
Sebagai Proses
Memahami IPA berarti juga memahami proses
IPA yaitu memahami bagaimana mengumpulkan fakta-fakta dan memahami bagaimana
menghubungkan fakta-fakta untuk menginterprestasikannya.
b. IPA
sebagai Produk
IPA sebagai produk merupakan kumpulan
hasil kegiatan empiric dan kegiatan analitik yang dilakukan oleh para ilmuwan
selama berabad-abad. Produk dalam IPAdapat berupa konsep, prinsip, teori, dan hukum.
c. IPA
sebagai Pemupuk Sikap
Sikap dalam IPA di Sekolah Dasar adalah
sikap ilmiah terhadap alam sekitar.
Uraian
di atas menegaskan bahwa dalam pembelajaran IPA ketiga unsure (proses, produk,
sikap) sangat penting dan diharapkan dapat muncul sehingga peserta didik dapat
mengalami pembelajaran secara utuh.
Siswa
SD yang umumnya berusia 6-12 tahun, secara perkembangan kognitif termasuk dalam
tahapan perkembangan operasional konkrit. Tahapan ini ditandai dengan cara
berpikir yang cenderung konkrit. Belajar IPA adalah belajar tentang fakta.
Fakta adalah situasi nyata dalam kehidupan. Pembelajaran IPA di tingkat SD
diharapkan ada penekanan pembelajaran saling temas (Sains, lingkungan,
teknologi, dan masyarakat) yang diarahkan pada pengalaman belajar untuk
merancang dan membuat suatu karya melalui penerapan konsep IPA dan kompotensi
belajar ilmiah secara bijaksana (Depdiknas, 2006:109). Oleh karena itu,
pembelajaran IPA di SD menekankn pada pemberian pengalaman belajar secara
langsung. Agar materi pelajaran IPA dapat diterima dengan baik oleh peserta
didik, maka diperlukan suatu strategi tertentu, utamanya yang dapat
menyenangkan dan memenuhi kebutuhan para siswa. Dalam hal ini beberapa metode
pengajaran dapat digunakan dalam membelajarkan materi IPA pada peserta didik.
Tugas
guru professional adalah memilih metode yang cocok dalam membelajarkan konsep
IPA pada para peserta didik. Pemilihan metode pembelajaran harus disesuaikan
dengan beberapa faktor yang akan berpengaruh terhadap jalannya pelasanaan
pembelajaran, yaitu tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, kemampuan guru,
kondisi peserta didik, sumber atau fasilitas, situasi kondisi dan waktu. Jadi
ketuntasan hasil belajar peserta didik dalam pembelajaran IPA dapat tercapai
apabila pemilihan metode pembelajaran IPA yang efektif serta melibatkan peserta
didik secara langsungdalam mencari, menemukan dan mengalami suatu proses dalam
pembelajaran.
2.3 Metode Pembelajaran
Kata
metode dibentuk dari dua kata yaitu “methodos” yang berati jalan ke, sedangkan
“logos” berarti ilmu. Dalam pembelajaran, metode pembelajaran adalah suatu ilmu
yang memberikan jalan menuju terjadinya suatu proses belajar mengajar. Metode
adalah suatu cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan
(Djamarah, 2002:53). Metode pembelajaran merupakan cara yang digunakan guru
dalam membelajarkan siswa agar terjadi interaksi dalam proses pembelajaran
sehingga pengalaman belajar yang diharapkan adalah terjadinya motivasi belajar
yang tinggi dari siswa (Winataputra, 2004:16). Menurut Surakhman dalam
Djamarahdan Zain (1995:89-92) faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan metode
mengajar adalah sebagai berikut:
1. Anak
Didik
Anak didik adalah manusia berpotensi yang menghajatkan
pendidikan. Di dalam ruang kelas guru akan bergadapan dengan sejumlah anak
didik dengan latar belakang kehidupan yang berlainan.
2. Tujuan
Tujuan adalah sasaran yang dituju dari setiap kegiatan
belajar mengajar. Tujuan pembelajaran merupakan tujuan intermedier, yang paling langsung dalam kegiatan belajar mengajar
di kelas
3. Situasi
Situasi kegiatan belajar mengajar yang guru ciptakan tidak
selamanya sama dari hari ke hari. Pada suatu waktu boleh jadi guru ingin
menciptakan situasi belajar mengajar di alam terbuka, yaitu di luar kelas.
4. Fasilitas
Fasilitas merupakan hal yang mempengaruhi pemilihan dan
penentuan metode mengajar. Fasilitas adalah kelengkapan yang menunjang belajar
anak didik di sekolah. Lengkap tidaknya fasilitas belajar akan mempengaruhi
pemilihan metode mengajar
5. Guru
Setiap guru mempunyai kepribadian, latar belakang pendidikan
dan pengalaman mengajar yang berbeda. Dengan demikian dapat dipahami bahwa
kepribadian, latar belakang, dan pengalaman mengajar adalah permasalahan intern guru yang dapat mempengaruhi
pemilihan dan penentuan metode mengajar.
2.4 Metode Eksperimen
2.4.1 Pengertian
Metode Eksperimen
Metode eksperimen adalah metode yang
memberikan kesempatan kepada siswa untuk melatih melakukan proses secara
mandiri, sehingga siswa sepenuhnya terlibat untuk menemukan fakta, mengumpulkan
data, mengendalikan variabel, merencanakan eksperimen dan memecahkan masalah
yang dihadapi secara nyata melalui eksperimen (Susilana, 2006:18). Metode
eksperimen merupakan cara penyajian pelajaran dimana siswa melakukan percobaan
dengan mengalami dan membuktikan sendiri sesuatu yang dipelajari (Sudirman,
1991:163). Dalam proses belajar mengajar dengan metode eksperimen ini, siswa
diberi kesempatan untuk melakukan sendiri, mengikuti suatu proses, mengamati
suatu objek, menganalisis, membuktikan, dan menarik kesimpulan sendiri tentang
suatu objek, keadaan, atau proses tertentu. Sedangkan menurut Roestiyah
(1998:80) metode eksperimen adalah salah satu cara mengajar dimana siswa
melakukan suatu percobaan tentang suatu hal, mengamati prosesnya serta
menuliskan hasil percobaannya, kemudian hasil pengamatan tersebut disampaikan
ke kelas dan dievaluasi oleh guru. Jadi dengan metode eksperimen ini siswa
tidak menelan begitu saja sejumlah informasi yang diperolehnya tetapi akan
berusaha untuk mengelola perolehannya dengan membandingkan tahap fakta yang
diperolehnya dengan cara melakukan percobaan.
Dengan diterapkannya metode
eksperimen ini ditujukan agar siswa mampu mencari dan menemukan sendiri
berbagai jawaban atau persoalan-persoalan yang dihadapinya dengan mengadakan
percobaan sendiri. Siswa dapat menemukan bukti kebenaran dari teori sesuatu
yang sedang dipelajarinya dan juga terlatih dalam berfikir ilmiah. Menurut
Roestiyah (1998:81), agar penggunaan teknik eksperimen dapat efektif dan
efisien maka pelaksana perlu memperhatikan hal-hal di bawah ini:
a. Dalam
eksperimen setiap siswa harus melakukan percobaan, sehingga jumlah alat dan
bahan atau materi percobaan harus cukup bagi setiap siswa
b. Dalam
eksperimen siswa harus teliti dan konsentrasi dalam mengamati proses percobaan,
sehingga perlu adanya waktu yang cukup agar siswa dapat menemukan pembuktian
kebenaran dari teori yang dipelajari tersebut
c. Agar
eksperimen tidak gagal dan siswa dapat menemukan bukti yang meyakinkan, maka
kondisi alat dan mutu bahan percobaan yang digunakan harus baik dan bersih
d. Perlu
dimengerti juga bahwa tidak semua masalah bisa dieksperimenkan
e. Siswa
dalam eksperimen ialah siswa yang sedang belajar dan berlatih, sehingga perlu
diberi petunjuk yang jelas sebab selain memperoleh pengetahuan, pengalaman
serta keterampilan siswa juga memperoleh kematangan jiwa
2.4.2 Kelebihan
dan Kekurangan Metode Eksperimen
Kelebihan
metode eksperimen (Roestiyah, 1998:82) yaitu:
a. Siswa
akan lebih aktif berpikir dan berbuat, hal ini sangat dikehendaki oleh kegiatan
mengajar belajar yang modern, dimana siswa lebih banyak aktif belajar sendiri
dengan bimbingan guru
b. Siswa
dalam melaksanakan proses eksperimen disamping memperoleh ilmu pengetahuan,
juga menemukan pengalaman praktis serta keterampilan dalam menggunakan
alat-alat percobaan
c. Dengan
eksperimen siswa membuktikan sendiri kebenaran suatu teori, sehingga akan
mengubah sikap siswa yang tahayul yaitu peristiwa-peristiwa yang tidak masuk
akal
d. Dengan
eksperimen siswa terlatih menggunakan metode ilmiah dalam menghadapi segala
masalah, sehingga tidak mudah percay pada sesuatu yang belum pasti
kebenarannya, dan tidak mudah percaya pula pada kata orang, sebelum ia
membuktikan kebenarannya
Sedangkan
kekurangan metode eksperimen (Djamarah, 2002:95), yaitu:
a. Metode
ini memerlukan berbagai fasilitas peralatan dan bahan yang tidak selalu mudah
diperoleh dan mahal
b. Setiap
percobaan tidak selalu memberikan hasil yang diharapkan karena mungkin ada
faktor-faktor tertentu yang berada di luar jangkauan kemampuan atau
pengendalian
c. Metode
ini lebih sesuai dengan bidang-bidang sains dan teknologi
d. Metode
ini menuntut ketelitian, keuletan dan ketabahan
2.4.3
Langkah - Langkah Menggunakan Metode Eksperimen
Pelaksanaan
metode eksperimen dalam pembelajaran IPA terdapat beberapa langkah pembelajaran
(Roestiyah, 1991:84), yaitu:
a. Perlu
dijelaskan kepada siswa tentang tujuan eksperimen, siswa harus memahami masalah
yang akan dibuktikan melalui eksperimen
b. Kepada
siswa perlu diterangkan pula tentang:
1)
Alat-alat serta bahan-bahan yang akan digunakan
dalam percobaan
2)
Agar tidak mengalami kegagalan, siswa perlu
mengetahui variabel-variabel yang harus dikontrol dengan tepat
3)
Urutan yang akan ditempuh sewaktu eksperimen
berlangsung
4)
Seluruh proses atau hal-hal yang penting saja
yang akan dicatat
5)
Perlu menetapkan bentuk catatan atau laporan
berupa uraian, perhitungan, grafik dan sebagainya
c. Selama
eksperimen berlangsung, guru harus mengawasi pekerjaan siswa
d. Setelah
eksperimen selesai, guru harus mengumpulkan hasil penelitian siswa, kemudian
mendiskusikan ke kelas dan mengevaluasinya.
2.5 Kreativitas Siswa
Menurut
Chandra (1994:17), kreativitas adalah kemampuan mental dan berbagai jenis
keterampilan khas manusia yang dapat melahirkan pengungkapan yang unik,
berbeda, orisinil, indah, efisiedn, tepat sasaran dan tepat guna. Kegiatan
belajar mengajar di sekolah pada hakekatnya dilaksanakan untuk meningkatkan dan
mengembangkan kreativitas siswanya, melalui interaksi dan pengalaman belajar
(Mulyasa, 2007:105). Pada dasarnya siswa di sekolah tidak hanya dituntut untuk
menerima materi pelajaran bagi guru. Siswa juga diberikan kesempatan untuk
berusaha mengembangkan kreativitas yang ada pada dirinya dengan bantuan guru.
Kreativitas
siswa di dalam kelas ditandai dengan partisipasi siswa secara aktif dalam
melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Menurut Slameto (2005:149) kreativitas
merupakan suatu bentuk aktivitassiswa yang dilaksanakan dengan berbagai cara
dan kesempatan dalam meghadapi berbagai situasi belajar. Menurut Gagne dalam
Hamalik (2004:180) kreativitas merupakan suatu bentuk pemecahan masalah yang
melibatkan suatu kombinasi gagasan-gagasan yang bersumber dari berbagai bidang
pengetahuan yang terpisah secara luas.
Menurut
Sund dalam Slameto (2003:147) menytakan bahwa individu dengan potensi kreatif
dapat dikenal melalui pengamatan ciri-ciri sebagai berikut:
a.
Hasrat keingintahuan yang cukup besar
b.
Bersikap terbuk terhadap pengalaman baru
c.
Panjang akal
d.
Keingintahuan untuk menemukan dan meneliti
e.
Cenderung lebih menyukai tugas yang berat dan
sulit
f.
Cenderung mencari jawaban yang luas dan memuaskan
g.
Memiliki dedikasi, bergairah, serta aktif dalam
melaksanakan tugas
h.
Berfikir fleksibel
i.
Menanggapi pertanyaan yang diajukan serta
cenderung member jawaban lebih banyak
j.
Kemampuan membuat analisis dan sintesis
k.
Memiliki semangat bertanya serta meneliti
l.
Memiliki daya abstraksi yang cukup baik
m.
Memiliki latar belakang membaca yang cukup luas
Tugas
guru dalam upaya untuk meningkatkan daya kreativitas siswa adalah guru
diharapkan selalu menanamkan rasa percaya diri kepada siswanya tentang apa yang
telah dikerjakannya. Kepercayaan diri pada siswa dapat meningkatkan keyakina
siswa bahwa ia mampu memecahkan masalah-masalah yang dihadapi.
Hal-hal
yang dapt dilakukan oleh guru untuk mendorong tingkah laku kreatif siswa,
menurut Torrance dalam Slameto (2005:156) adalah sebagai berikut:
Berdasarkan
pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa sikap guru yang mau menghargai dan
mendengarkan setiap gagasan dan pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan oleh
siswa dapat mendorong untuk bertingkah laku kreatif. Guru tidak boleh
menganggap pendapat-pendapat siswanya
itu rendah, tetapi selalu antusias untuk mendengarkan pendapat-pendapat
tersebut.
Daya
kreativitas siswa akan nampak pada tingah laku yang ditunjukkan dalam kegitan
belajar mengajar. Menurut Sund dalam Slameto bahwa individu dengan potensi
kreatif dapat dikenali melalui pengamatan sebagai berikut:
1.
Memiliki hasrat keingintahuan
2.
Cara siswa dalam melaksanakan tugas
3.
Cara siswa menanggapi pertanyaan yang diajukan
guru
4.
Semangat bertanya dan meneliti
5.
Latar belakang membaca siswa
2.6 Hubungan Metode Eksperimen dengan Kreativitas
Siswa dalam Pembelajaran IPA
Pendidikan
IPA di sekolah dasar diarahkan untuk mencari tahu dan berbuat sehingga dapat
membantu siswa untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang alam
sekitar. Pembelajaran IPA merupakan cara
mencari tahu tentang alam secara sistematis untuk menguasai pengetahuan,
fakta - fakta, konsep - konsep, prinsip - prinsip, proses penemuan, dan memiliki sifat ilmiah. Dalam pelaksanaan
pembelajaran IPA seorang guru harus dapat meningkatkan dan mengembangkan
kreatifitas siswanya melalui interaksi dan pengalaman belajar. Oleh karena itu,
untuk meningkatkan kreativitas siswa seorang guru harus mampu mengembangkan
metode pembelajaran yang bisa menciptakan kreativitas siswa dalam proses
belajar mengajar. Penggunaan metode eksperimen dalam pembelajaran IPA dipakai
sebagai penunjang dalam pencapaian tujuan pembelajaran khususnya meningkatkan
kreativitas siswa. Dengan metode inilah kreativitas siswa dapat meningkat
secara optimal karena siswa dapat melakukan aktivitas pembelajaran secara
langsung.
2.7 Hipotesis Penelitian
Kreativitas
siswa dalam pembelajaran IPA kelas III SD pada pokok bahasan membuat karya
sederhana dapat meningkat setelah menerapkan Metode Eksperimen.
BAB 3
METODE PENELITIAN
Pada bab ini akan dibahas tentang metode penelitian yang
akan dilakukan pada penelitian ini yaitu meliputi waktu dan tempat penelitian,
subyek penelitian, batasan masalah, definisi operasional, desain penelitian,
metode pengumpulan data, dan metode analisis data.
3.1
Waktu
dan Tempat Penelitian
Adapun
waktu penelitian ini akan dilaksanakan sekitar 2 bulan . Penelitian tindakan
kelas ini dilaksanakan di kelas III di SDN Karanganyar 01 karena adanya masalah
penggunaan metode pembelajaran yang menyebabkan kreativitas siswa rendah
3.2
Subjek
Penelitian
Menurut Arikunto
(1998:102), subjek penelitian adalah orang yang merespon atau menjawab
pertanyaan-pertanyaan tertulis maupun lisan. Dengan demikian yang dimaksud
subjek penelitian adalah orang yang dapat memberikan keterangan, penjelasan
atau tanggung jawab terhadap suatu permasalahan yang sedang diselidiki.
Subjek penelitian dalam
penelitian ini adalah siswa kelas III SDN Karanganyar 01 sebanyak 26 siswa, dengan rincian siswa laki-laki
berjumlah 12 siswa dan siswa perempuan berjumlah 14 siswa.
3.3
Batasan
Penelitian
Penelitian ini dilakukan
untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh penerapan metode eksperimen terhadap
kreativitas siswa kelas III SD mata pelajaran IPA pokok bahasan membuat karya sederhana.
3.4
Definisi
Operasional
a.
Kreativitas
Siswa
Kreativitas
siswa yang diamati dalam penelitian ini adalah tingkah laku siswa selama
mengikuti kegiatan pembelajaran yang meliputi : memperhatikan penjelasan guru,
presentasi, menjawab pertanyaan, serta diskusi.
b.
Metode
Eksperimen
Metode eksperimen dalam
penelitian ini secara operasional didefinisikan sebagai suatu cara belajar
siswa untuk
mencoba, menguji, serta mencari dan menemukan jawaban pasti suatu masalah
sehingga setelah percobaan selesai siswa dapat menyimpulkan apa yang telah
dikerjakan sesuai prosedur di LKS yang disusun oleh guru.
3.5
Desain
Penilitian
Rancangan yang digunakan
dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Hakikat PTK adalah
upaya tindakan yang dilakukan secara terencana dan sistematis untuk memecahkan
masalah pembelajaran di kelas yang dihadapi oleh para guru sehari-hari
(Sunardi, 2008; 6). Perencanaan penelitian tindakan ini menggunakan prosedur
kerja Kemmis dan Taggart dengan dua siklus. Tiap siklus terdiri dari :
a) Perencanaan
Kegiatan
perencanaan pada siklus I ini adalah membuat silabus, RPP IPA pokok bahasan
membuat karya sederhana dengan menerapkan metode eksperimen. Menyusun daftar
kelompok, menyusun skenario cerita, serta membuat pedoman observasi, tes dan
wawancara
b) Tindakan
Tahap
pelaksanaan, untuk kegiatan awal akan disampaikan tujuan pembelajaran yang
diharapkan siswa akan dapat memahami materi yang akan disampaikan. Pada tahap
ini ditunjukkan dengan kegiatan pelaksanaan belajar-mengajar sesuai dengan RPP.
c) Observasi
Kegiatan
observasi dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan tindakan. Observasi
dilakukan untuk memperoleh gambaran kreativitas siswa dalam kegiatan
pembelajaran di kelas. Observasi terhadap kreativitas siswa saat pembelajaran
berlangsung dilakukan dengan menggunakan pedoman observasi kreativitas siswa
sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan
d) Refleksi
Refleksi
merupakan upaya untuk mengkaji atau memberikan kesimpulan tentang penelitian
yang telah dilakukan.
Apabila siklus pertama
belum tercapai target penelitian, maka dilakukan siklus berikutnya sehingga
tercapai tujuan target penelitian. Penelitian dihentikan setelah target
penelitian tercapai.
3.6
Metode
Pengumpulan Data
Metode
pengumpulan data dimaksudkan untuk memperoleh bahan-bahan yang relevan dan
akurat yang dapat digunakan dengan tepat sesuai dengan tujuan penelitian.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah: 1) metode observasi, 2)
metode wawancara, 3) metode tes, 4) dokumentasi
a) Metode observasi
Metode observasi dalam penelitian
ini digunakan untuk memperoleh data kualitatif dengan mengamati tindakan siswa
dalam pembelajaran IPA pokok bahasan Membuat Karya Sederhana. Observasi pada
siswa diarahkan pada keseriusan, perhatian, dan partisipasi siswa dalam
mengikuti pembelajaran
b) Metode Wawancara
Metode wawancara digunakan
untuk memperoleh data tentang tanggapan siswa dan guru mengenai pembelajaran IPA
sebelum pelaksanaan penelitian. Wawancara dilakukan kepada guru kelas III
digunakan untuk mengetahui adanya kendala-kendala yang dihadapi dan
kesalahan-kesalahan yang sering dilakukan oleh siswa dalam pembelajaran IPA,
sedangkan wawancara kepada siswa dilakukan untuk mengetahui kendala-kendala
yang dialami siswa selama pembelajaran IPA. Wawancara juga dilakukan setelah
penelitian digunakan untuk mengungkap penerapan metode Eksperimen dalam IPA khususnya
pokok bahasan membuat karya sederhana, serta kesulitan-kesulitan yang dialami
siswa selama mengikuti pembelajaran IPA.
c) Metode Tes
Tes adalah serentetan
pertanyaan atau latihan
serta alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan
intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok
(Arikunto, 2006:150). Metode tes ini digunakan untuk mengetahui kemampuan siswa
dalam memahami dan menguasai materi. Dalam penelitian ini jenis tes yang
digunakan adalah isian singkat dan uraian, karena jenis tes ini dapat
memunculkan kreativitas siswa dalam berfikir. Soal tes dibuat sendiri oleh
peneliti dengan merujuk pada buku, tujuan pembelajaran dan kerjasama dengan
guru kelas
d) Metode Dokumentasi
Metode dokumentasi dalam
penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mencari data mengenai biodata
siswa dan kemampuan siswa jika dilihat dari daftar nilai siswa. Adapun sumber
data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah:
1. Biodata siswa
2. Daftar nilai siswa
3.7
Metode
Analisis Data
Penelitian
ini menggunakan indikator deskriptif untuk
menganalisa data. Data diperoleh dari hasil observasi awal sebelum tindakan dan
observasi pada saat peneliti melaksanakan tindakan, yaitu hasil observasi
mengenai penilaian daya kreativitas.
Penilaian
proses belajar mengajar, untuk mengukur tingkah laku ndi denganindikator yang sesuai dengan keinginan peneliti yaitu ndi tinggi, sedang,
rendah, atau baik, sedang, kurang. Menurut Nana Sudjana (1991:77-78) dalam
penilaian proses belajar mengajar, rentangan nilai/skor yng digunakan ndi dalam
bentuk angka (1,2,3,4). Penilaian daya Kreativitas Siswa dalam penelitian ini
menggunakan skor 1-5. Untuk mengetahui Kreativitas Siswa terhadap metode eksperimen digunakan
hal-hal sebagai berikut:
1. Aspek-aspek
yang diamati pada setiap masing-masing indikator kreativitas siswa dapat dilihat pada indikator 3.2 berikut:
Indikator
|
Aspek yang diamati
|
1.
Memiliki hasrat keingintahuan
|
a.
Siswa tidak takut untuk bertanya
b.
Siswa juga berusaha bertanya kepada teman apabila ada materi yang belum
jelas
c.
Siswa selalu bertanya kepadaguru mengenai hal-hal yang berkaitan dengan
materi
d.
Apabila siswa merasa tidak puas dengan jawaban guru, mereka akan terus bertanya
sampai puas
|
2.
Cara siswa menghadapi pertanyaan yang diajukan guru
|
a. siswa dapat dengan cepat
memahami pertanyaan guru
b. siswa selalu menjawab dengan
benar
c. jawaban yang diberikan siswa
berdasarkan jawaban sendiri bukan dari teman
d. jawaban siswa bervariasi dan
sesuai dengan pertanyaan guru
|
3.
Semangat bertanya dan meneliti
|
a.
Siswa melontarkan pertnyaan-pertanyaan
b.
Pertanyaan siswa lebih ditekankan pada fakta-fakta dari jawaban yang
diberikan oleh guru
c.
Pertanyaan siswa bersifat menyelidik
d.
Isi pertanyaan siswa lebih mengarah ke bentuk pemahaman dan hana
pengertian
|
4.
Latar belakang membaca siswa
|
a.
Siswa dapat menjawab pertanyaan guru dengan benar meskipun belum
diterangkan
b.
Apabila diberi pertanyaan jawaban yang diberikan siswa tidak terpaku
pada satu buku
c.
Siswa mempunyai pendapat dan gagasan
d.
Siswa dapat menyelesaikan tugas yang diberikan dengan cepat dan tepat
|
2. Menentukan
skor siswa untuk masing-masing indikator
dilakukan dengan cara sebagai berikut:
Skor 5
diberikan pada siswa yang memenuhi 4 aspek yang diamati
Skor 4
diberikan pada siswa yang memenuhi 3 aspek yang diamati
Skor 3
diberikan pada siswa yang memenuhi 2 aspek yang diamati
Skor 2
diberikan pada siswa yang memenuhi 1 aspek yang diamati
Skor 1
diberikan pada siswa yang tidak memiliki satupun aspek yang diamati
3. Menghitung
kreativitas rata-rata pada masing-masing indikator dengan rumus
Skor
rata-rata kreativitas siswa (X) = 
4. Menghitung
skor rata-rata kreativitas siswa dengan rumus:
Jumlah
skor rata-rata kreativitas siswa (X) = 
(Bashori,
2008:36)
Tabel
3.3 Kategori kreativitas siswa
Skor rata-rata
|
Kategori
|
1,0 – 1,99
2,0 – 2,99
3,0 – 3,99
4,0 – 4,99
> 4,99 atau 5,00
|
Sangat rendah
Rendah
Sedang
Tinggi
Sangat tinggi
|
Sudjana
dalam Zelvia (2007)
3.8
Indikator Pencapaian
Adapun
indikator keberhasilan aktivitas siswa kelas III mata pelajaran IPA
SDN Karanganyar 01 harus
mencapai kriteria standart ketuntasan minimum, dinyatakan sebagai berikut :
a)
Kreativitas
Siswa
Kreativitas seorang siswa pada mata pelajaran IPA dinyatakan berhasil apabila mencapai ≥ 5,00 dari skor maksimum 100
b)
Metode
Eksperimen
Keterampilan
guru dalam menerapkan metode eksperimen pada pembelajaran sesuai prosedur.
Daftar Pustaka
Arikunto, S. 1998. Penilaian Program Pendidikan. Jakarta: Bina Aksara.
Piaget,
Winataputra. 2007. Prosedur Penelitian
Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta:
Rineka Cipta.
DEPDIKNAS, 2006. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia nomor 22 Tahun
2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta: Depdikbud.
DEPDIKNAS, 2007. Kurikulum Tingkat
Satuan Pendidikan Sekolah Dasar. Jakarta:
Badan Standar Nasional Pendidikan.
Roestiyah.
1998. Metodelogi Penelitian dan Teknik Penyusunan
Skripsi. Jakarta:
Rineka Cipta.
Roestiyah.
1991. Belajar Secara Efektif. Jakarta: Puspa Swara.
Nasution.
2000. Perencanaan Pengajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
Sadirman.
2004. Perencanaan Pengajaran. Jakarta: Depdikbud dan
Rineka Cipta.
ijin share ya...
BalasHapusDid you know there is a 12 word phrase you can tell your crush... that will induce deep feelings of love and impulsive attractiveness for you deep inside his heart?
BalasHapusThat's because deep inside these 12 words is a "secret signal" that fuels a man's instinct to love, treasure and care for you with his entire heart...
====> 12 Words Will Fuel A Man's Love Instinct
This instinct is so built-in to a man's mind that it will drive him to work better than ever before to build your relationship stronger.
As a matter of fact, fueling this mighty instinct is absolutely mandatory to having the best ever relationship with your man that the moment you send your man one of the "Secret Signals"...
...You'll instantly notice him open his mind and heart to you in a way he never experienced before and he will see you as the only woman in the galaxy who has ever truly appealed to him.