Minggu, 12 Januari 2014

Penerapan Metode Eksperimen Guna Meningkatkan Kreativitas Siswa SD



BAB I
PENDAHULUAN

1.1  LATAR BELAKANG MASALAH
Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) sebagai mata pelajaran yang wajib dibelajarkan pada jenjang Sekolah Dasar, mempunyai peranan yang sangat penting dalam upaya mempersiapkan siswa sedini mungkin. Pendidikan IPA menekankan pada pemberian pengalaman langsung dan kegiatan praktis untuk mengembangkan kompetensi agar siswa mampu menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Pendidikan IPA diarahkan untuk mencari “tahu” dan “berbuat” sehingga dapat membantu siswa untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang alam sekitar (Depdiknas, 2007:V). Pembelajaran IPA SD/MI merupakan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis untuk menguasai pengetahuan, fakta-fakta, konsep-konsep, prinsip-prinsip, proses penemuan, dan memiliki sifat ilmiah.
Menurut Piaget (dalam Winataputra dkk, 2007:3.40) perkembangan kognitif (kecerdasan) anak dibagi menjadi empat tahap, yaitu tahap sensori motor (0-2 tahun), pre-operasional (2-7 tahun), konkret operasional (7-11 tahun), dan formal operasi (11-15 tahun). Siswa SD termasuk dalam tahap konkret operasional, dimana dalam tahap ini siswa sudah mulai melakukan operasi, mulai dapat berfikir rasional dan segala kegiatan yang dilakukan membutuhkan suatu pengalaman yang bersifat kongkrit. Oleh karena itu, dalam pelaksanaan pembelajaran IPA, seorang guru harus dapat merumuskan suatu metode pembelajaran yang dapat memberikan pengalaman langsung kepada siswa sehingga materi yang disampaikan dapat dipahami secara utuh oleh siswa.
Meningkatkan kreativitas siswa, seorang guru harus mengembangkan suatu metode dan metode pembelajaran yang bisa mewujudkan semangat dan keaktifan siswa dalam proses belajar mengajar. Pembelajaran mempunyai dua komponen yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain, yaitu belajar dan mengajar. Belajar menunjukkan pada apa yang harus dilakukan oleh peserta didik, sedangkan mengajar menunjukkan pada apayang dilakukan oleh seorang guru sebagai pengajar dan pendidik. Guru merupakan salah satu faktor yang sangat mempengaruhi keberhasilan pembelajaran. Oleh karena itu, hendaknya guru menerapkan metode yang sesuai dengan kondisi kelas dan mata pelajaran.
Berdasarkan pengamatan  di SD Karanganyar 01 khususnya siswa kelas III, pembelajaran IPA di dalam kelas siswa kurang begitu antusias. Padahal guru kelas sudah melakukan proses pembelajaran yang cukup baik. Kebanyakan siswa hanya mendengarkan materi dari guru, siswa cuma bisa duduk dengan tenang di tempat duduknya tanpa mau bertanya materi yang mungkin sulit dipahami. Keadaan seperti ini dimungkinkan siswa takut bertanya kepada guru. Karena memang siswa tidak memiliki keberanian untuk bertanya bahkan menjawab pertanyaan yang diajukan oleh guru. Akibat dari keadaan tersebut kreativitas siswa yang diperoleh kurang memuaskan. Menurut observasi awal yang dilakukan oleh peneliti, bahwa kelas III memiliki skor rata-rata kreativitas rendah. Hal ini ditunjukkan dengan skor rata-rata yaitu sebesar 2,6 (perincian skor rata-rata kreativitas siswa dapat dilihat dilampiran tabel 3.3). Dimana kriteria untuk kreativitas siswa menggunakan skor, yaitu: skor 1-1,99 merupakan kriteria sangat rendah sedangkan skor >4,99 atau 5 untuk kriteria sangat tinggi.
Berdasarkan kenyataan yang ada, maka peneliti memberikan solusi dengan menggunakan metode eksperimen untuk meningkatkan kreativitas siswa. Pembelajaran IPA melalui eksperimen merupakan suatu pembelajaran yang mampu melibatkan siswa secara langsung dan siswa akan menjadi lebih aktif dalam proses belajar mengajar, sehingga melalui eksperimen pembelajaran bukan hanya teacher centered tetapi pembelajaran IPA menjadi student centered.
Metode mengajar dalam pelajaran IPA banyak sekali ragamnya. Kita sebagai pendidik tentu harus memiliki metode mengajar yang beraneka ragam, dan disesuaikan dengan materi yang diajarkan, sehingga tujuan pengajaran yang telah dirumuskan oleh pendidik dapat tercapai. Metode eksperimen adalah suatu cara penyajian pelajaran dimana siswa melakukan percobaan dengan mengalami dan membuktikan sendiri sesuatu yang dipelajari (Sudirman, 1991:163). Melalui eksperimen dapat merangsang keingintahuan siswa terhadap suatu materi pelajaran. Percobaan yang dilakukan membuat siswa mengalami secara langsung sehingga siswa dapat menyimpulkan sendiri terhadap apa yang telah dilakukan serta apa yang diperoleh siswa dapat membekas dalam ingatannya, seperti melakukan percobaan dalam membuat karya sederhana.

Metode eksperimen dapat melatih siswa dapat berfikir ilmiah (scien-tific thingking), siswa termotivasi untuk mencari dan menemukan bukti serta jawaban terhadap suatu masalah sehingga proses belajar yang membosankan dapat berubah menjadi suatu proses pembelajaran yang efektif dan menyenangkan sehingga dapat meningkatkan kreativitas siswa serta dapat menghilangkan dominasi guru pada saat proses pembelajaran. Pokok bahasan yang dipilih dalam metode eksperimen adalah membuat karya sederhana. Manfaat dari metode eksperimen berarti melibatkan siswa untuk belajar mengembangkan kreativitasnya dalam jalinan kegiatan yang disusunnya sendiri untuk menemukan sesuatu.
Berdasarkan uraian dan kenyataan di atas, maka metode eksperimen dipikirkan dapat digunakan untuk menyelesaikan permasalahan di atas melalui Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kreativitas siswa belajar IPA kelas III. Oleh karena itu, judul penelitian ini adalah “Meningkatkan Kreativitas Siswa Belajar IPA Kelas III Pokok Bahasan Membuat Karya Sederhana Melalui Metode Pembelajaran Eksperimental

1.2  RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan dari latar belakang di atas, maka penulis akan merumuskan suatu masalah sebagai berikut:
1. Bagaimanakah peningkatan kreativitas siswa dengan diterapkannya metode pembelajaran eksperimental mata pelajaran IPA pada siswa kelas III pokok bahasan membuat karya sederhana?

1.3  TUJUAN PENELITIAN
Berdasarkan dari permasalahan di atas, penelitian ini bertujuan:
1.   Untuk meningkatkan kreativitas siswa pada mata pelajaran IPA pokok bahasan membuat karya sederhana melalui metode pembelajaran eksperimental



1.4  MANFAAT PENELITIAN
Penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi semua pihak diantaranya:
1.   Guru memberikan informasi tentang metode pembelajaran yang sesuai dengan materi IPA. 
2.   Siswa meningkatkan motivasi pada mata pelajaran IPA
3.  Sekolah memberikan masukan bagi sekolah sebagai pedoman untuk mengambil kebijakan di sekolah tersebut.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Pengertian Belajar dan Pembelajaran
            Belajar adalah kegiatan berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam penyelenggaraan jenis dan jenjang pendidikan. Hal ini berarti keberhasilan pencapaian tujuan pendidikan sangat tergantung pada keberhasilan proses belajar siswa di sekolah dan lingkungan sekitarnya. Menurut Hamalik (1990:21) belajar adalah suatu perubahan tingkah laku yang baru dalam diri seseorang berkat pengalaman dan latihan. Misalnya saja dalam pembelajaran IPA, siswa melakukan suatu eksperimen (percobaan) untuk menemukan bukti kebenaran dari teori yang sedang dipelajarinya. Sedangkan menurut Bell-Gredler (dalam Winataputra, 2008) belajar adalah proses yang dilakukan oleh manusia untuk mendapatkan aneka ragam competencies, skills, and attitude. Kemampuan (competencies), keterampilan (skills), dan sikap (attitude) tersebut diperoleh secara bertahap dan berkelanjutan mulai dari masa bayi sampai masa tua melalui rangkaian proses belajar sepanjang hayat. Belajar yang efektif adalah melalui pengalaman. Dalam proses belajar, seseorang berinteraksi langsung dengan objek belajar dengan menggunakan semua alat indranya. Belajar ialah proses perubahan tingkah laku seseorang terhadap situasi tertentu, yang disebabkan oleh pengalamannya yang berulang-ulang dalam situasi itu, dimana perubahan tingkah laku itu tidak dapat dijelaskan berdasarkan atas kecenderungan tanggapan bawaan, kematangan, atau keadaan-keadaan sesaat seseorang (Hilgard dan Bower, 1975:2)
            Pembelajaran merupakan suatu kejadian, peristiwa, kondisi, dsb yang secara sengaja dirancang untuk mempengaruhi siswa sehingga proses belajarnya dapat berlangsung dengan mudah (Gagne dalam Mukminan, 2004:7). Pembelajaran juga merupakan suatu kegiatan yang diselenggarakan untuk guru untuk membelajarkan siwa agar tahu caranya memperoleh dan memproses pengetehuan, keterampilan dan sikap (Dimyati & Mudjiono, 2002:157). Kegiatan belajar mengajar adalah satu kesatuan dari dua kegiatan yang searah. Kegiatan belajar adalah kegiatan primer, sedangkan kegiatan mengajar yaitu kegiatan sekunder yang dimaksudkan agar terjadi kegiatan yang berjalan secara optimal. Dari pengertian-pengertian pembelajaran di atas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran adalah suatu usaha sadar dari guru untuk membuat siswa belajar yaitu terjadinya perubahan tingkah laku pada diri siswa yang belajar, dimana perubahan itu membuat siswa memiliki kemampuan baru yang berlaku dalam waktu yang relatif lama.

2.2 Pembelajaran IPA di SD
            IPA dapat didefinisikan sebagai ilmu tentang fenomena alam semesta. Pembelajaran IPA menekankan pada pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar peserta didik mampu memahami alam sekitar melalui proses “ mencari tahu” dan “berbuat”, hal ini akan membantu peserta didik untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam. Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dapat dipandang sebagai produk dan sebagai proses. Secara definisi, IPA sebagai produk adalah hasil temuan – temuan para ahli saintis, berupa fakta, konsep, prinsip, dan teori – teori. Sedangkan IPA sebagai proses adalah strategi atau cara yang dilakukan para ahli saintis dalam menemukan berbagai hal tersebut sebagai implikasi adanya temuan–temuan tentang kejadian–kejadian atau peristiwa–peristiwa alam. IPA sebagai produk tidak dapat dipisahkan dari hakekatnya IPA sebagai proses (Sumber: http://latipduniailmiah.blogspot.com/2009/03/pembelajaran-ipa-sekolah-dasar-sd.html.
            Menurut Bernal dalam Darmajo(1992:4) IPA pada hakekatnya mempunyai 3 dimensi yakni sebagai proses, produk, dan pemupuk sikap:
a.       IPA Sebagai Proses
Memahami IPA berarti juga memahami proses IPA yaitu memahami bagaimana mengumpulkan fakta-fakta dan memahami bagaimana menghubungkan fakta-fakta untuk menginterprestasikannya.
b.      IPA sebagai Produk
IPA sebagai produk merupakan kumpulan hasil kegiatan empiric dan kegiatan analitik yang dilakukan oleh para ilmuwan selama berabad-abad. Produk dalam IPAdapat berupa konsep, prinsip, teori,  dan hukum.
c.       IPA sebagai Pemupuk Sikap
Sikap dalam IPA di Sekolah Dasar adalah sikap ilmiah terhadap alam sekitar.
            Uraian di atas menegaskan bahwa dalam pembelajaran IPA ketiga unsure (proses, produk, sikap) sangat penting dan diharapkan dapat muncul sehingga peserta didik dapat mengalami pembelajaran secara utuh.
           Siswa SD yang umumnya berusia 6-12 tahun, secara perkembangan kognitif termasuk dalam tahapan perkembangan operasional konkrit. Tahapan ini ditandai dengan cara berpikir yang cenderung konkrit. Belajar IPA adalah belajar tentang fakta. Fakta adalah situasi nyata dalam kehidupan. Pembelajaran IPA di tingkat SD diharapkan ada penekanan pembelajaran saling temas (Sains, lingkungan, teknologi, dan masyarakat) yang diarahkan pada pengalaman belajar untuk merancang dan membuat suatu karya melalui penerapan konsep IPA dan kompotensi belajar ilmiah secara bijaksana (Depdiknas, 2006:109). Oleh karena itu, pembelajaran IPA di SD menekankn pada pemberian pengalaman belajar secara langsung. Agar materi pelajaran IPA dapat diterima dengan baik oleh peserta didik, maka diperlukan suatu strategi tertentu, utamanya yang dapat menyenangkan dan memenuhi kebutuhan para siswa. Dalam hal ini beberapa metode pengajaran dapat digunakan dalam membelajarkan materi IPA pada peserta didik.
            Tugas guru professional adalah memilih metode yang cocok dalam membelajarkan konsep IPA pada para peserta didik. Pemilihan metode pembelajaran harus disesuaikan dengan beberapa faktor yang akan berpengaruh terhadap jalannya pelasanaan pembelajaran, yaitu tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, kemampuan guru, kondisi peserta didik, sumber atau fasilitas, situasi kondisi dan waktu. Jadi ketuntasan hasil belajar peserta didik dalam pembelajaran IPA dapat tercapai apabila pemilihan metode pembelajaran IPA yang efektif serta melibatkan peserta didik secara langsungdalam mencari, menemukan dan mengalami suatu proses dalam pembelajaran.

2.3 Metode Pembelajaran
            Kata metode dibentuk dari dua kata yaitu “methodos” yang berati jalan ke, sedangkan “logos” berarti ilmu. Dalam pembelajaran, metode pembelajaran adalah suatu ilmu yang memberikan jalan menuju terjadinya suatu proses belajar mengajar. Metode adalah suatu cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan (Djamarah, 2002:53). Metode pembelajaran merupakan cara yang digunakan guru dalam membelajarkan siswa agar terjadi interaksi dalam proses pembelajaran sehingga pengalaman belajar yang diharapkan adalah terjadinya motivasi belajar yang tinggi dari siswa (Winataputra, 2004:16). Menurut Surakhman dalam Djamarahdan Zain (1995:89-92) faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan metode mengajar adalah sebagai berikut:
1.      Anak Didik
Anak didik adalah manusia berpotensi yang menghajatkan pendidikan. Di dalam ruang kelas guru akan bergadapan dengan sejumlah anak didik dengan latar belakang kehidupan yang berlainan.
2.      Tujuan
Tujuan adalah sasaran yang dituju dari setiap kegiatan belajar mengajar. Tujuan pembelajaran merupakan tujuan intermedier, yang paling langsung dalam kegiatan belajar mengajar di kelas
3.      Situasi
Situasi kegiatan belajar mengajar yang guru ciptakan tidak selamanya sama dari hari ke hari. Pada suatu waktu boleh jadi guru ingin menciptakan situasi belajar mengajar di alam terbuka, yaitu di luar kelas.
4.      Fasilitas
Fasilitas merupakan hal yang mempengaruhi pemilihan dan penentuan metode mengajar. Fasilitas adalah kelengkapan yang menunjang belajar anak didik di sekolah. Lengkap tidaknya fasilitas belajar akan mempengaruhi pemilihan metode mengajar
5.      Guru
Setiap guru mempunyai kepribadian, latar belakang pendidikan dan pengalaman mengajar yang berbeda. Dengan demikian dapat dipahami bahwa kepribadian, latar belakang, dan pengalaman mengajar adalah permasalahan intern guru yang dapat mempengaruhi pemilihan dan penentuan metode mengajar.
           
2.4 Metode Eksperimen
2.4.1 Pengertian Metode Eksperimen
            Metode eksperimen adalah metode yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk melatih melakukan proses secara mandiri, sehingga siswa sepenuhnya terlibat untuk menemukan fakta, mengumpulkan data, mengendalikan variabel, merencanakan eksperimen dan memecahkan masalah yang dihadapi secara nyata melalui eksperimen (Susilana, 2006:18). Metode eksperimen merupakan cara penyajian pelajaran dimana siswa melakukan percobaan dengan mengalami dan membuktikan sendiri sesuatu yang dipelajari (Sudirman, 1991:163). Dalam proses belajar mengajar dengan metode eksperimen ini, siswa diberi kesempatan untuk melakukan sendiri, mengikuti suatu proses, mengamati suatu objek, menganalisis, membuktikan, dan menarik kesimpulan sendiri tentang suatu objek, keadaan, atau proses tertentu. Sedangkan menurut Roestiyah (1998:80) metode eksperimen adalah salah satu cara mengajar dimana siswa melakukan suatu percobaan tentang suatu hal, mengamati prosesnya serta menuliskan hasil percobaannya, kemudian hasil pengamatan tersebut disampaikan ke kelas dan dievaluasi oleh guru. Jadi dengan metode eksperimen ini siswa tidak menelan begitu saja sejumlah informasi yang diperolehnya tetapi akan berusaha untuk mengelola perolehannya dengan membandingkan tahap fakta yang diperolehnya dengan cara melakukan percobaan.
            Dengan diterapkannya metode eksperimen ini ditujukan agar siswa mampu mencari dan menemukan sendiri berbagai jawaban atau persoalan-persoalan yang dihadapinya dengan mengadakan percobaan sendiri. Siswa dapat menemukan bukti kebenaran dari teori sesuatu yang sedang dipelajarinya dan juga terlatih dalam berfikir ilmiah. Menurut Roestiyah (1998:81), agar penggunaan teknik eksperimen dapat efektif dan efisien maka pelaksana perlu memperhatikan hal-hal di bawah ini:
a.       Dalam eksperimen setiap siswa harus melakukan percobaan, sehingga jumlah alat dan bahan atau materi percobaan harus cukup bagi setiap siswa
b.      Dalam eksperimen siswa harus teliti dan konsentrasi dalam mengamati proses percobaan, sehingga perlu adanya waktu yang cukup agar siswa dapat menemukan pembuktian kebenaran dari teori yang dipelajari tersebut
c.       Agar eksperimen tidak gagal dan siswa dapat menemukan bukti yang meyakinkan, maka kondisi alat dan mutu bahan percobaan yang digunakan harus baik dan bersih
d.      Perlu dimengerti juga bahwa tidak semua masalah bisa dieksperimenkan
e.       Siswa dalam eksperimen ialah siswa yang sedang belajar dan berlatih, sehingga perlu diberi petunjuk yang jelas sebab selain memperoleh pengetahuan, pengalaman serta keterampilan siswa juga memperoleh kematangan jiwa
2.4.2 Kelebihan dan Kekurangan Metode Eksperimen
Kelebihan metode eksperimen (Roestiyah, 1998:82) yaitu:
a.       Siswa akan lebih aktif berpikir dan berbuat, hal ini sangat dikehendaki oleh kegiatan mengajar belajar yang modern, dimana siswa lebih banyak aktif belajar sendiri dengan bimbingan guru
b.      Siswa dalam melaksanakan proses eksperimen disamping memperoleh ilmu pengetahuan, juga menemukan pengalaman praktis serta keterampilan dalam menggunakan alat-alat percobaan
c.       Dengan eksperimen siswa membuktikan sendiri kebenaran suatu teori, sehingga akan mengubah sikap siswa yang tahayul yaitu peristiwa-peristiwa yang tidak masuk akal
d.      Dengan eksperimen siswa terlatih menggunakan metode ilmiah dalam menghadapi segala masalah, sehingga tidak mudah percay pada sesuatu yang belum pasti kebenarannya, dan tidak mudah percaya pula pada kata orang, sebelum ia membuktikan kebenarannya
Sedangkan kekurangan metode eksperimen (Djamarah, 2002:95), yaitu:
a.       Metode ini memerlukan berbagai fasilitas peralatan dan bahan yang tidak selalu mudah diperoleh dan mahal
b.      Setiap percobaan tidak selalu memberikan hasil yang diharapkan karena mungkin ada faktor-faktor tertentu yang berada di luar jangkauan kemampuan atau pengendalian
c.       Metode ini lebih sesuai dengan bidang-bidang sains dan teknologi
d.      Metode ini menuntut ketelitian, keuletan dan ketabahan
2.4.3 Langkah - Langkah Menggunakan Metode Eksperimen
Pelaksanaan metode eksperimen dalam pembelajaran IPA terdapat beberapa langkah pembelajaran (Roestiyah, 1991:84), yaitu:
a.       Perlu dijelaskan kepada siswa tentang tujuan eksperimen, siswa harus memahami masalah yang akan dibuktikan melalui eksperimen
b.      Kepada siswa perlu diterangkan pula tentang:
1)      Alat-alat serta bahan-bahan yang akan digunakan dalam percobaan
2)      Agar tidak mengalami kegagalan, siswa perlu mengetahui variabel-variabel yang harus dikontrol dengan tepat
3)      Urutan yang akan ditempuh sewaktu eksperimen berlangsung
4)      Seluruh proses atau hal-hal yang penting saja yang akan dicatat
5)      Perlu menetapkan bentuk catatan atau laporan berupa uraian, perhitungan, grafik dan sebagainya
c.       Selama eksperimen berlangsung, guru harus mengawasi pekerjaan siswa
d.      Setelah eksperimen selesai, guru harus mengumpulkan hasil penelitian siswa, kemudian mendiskusikan ke kelas dan mengevaluasinya.

2.5 Kreativitas Siswa
Menurut Chandra (1994:17), kreativitas adalah kemampuan mental dan berbagai jenis keterampilan khas manusia yang dapat melahirkan pengungkapan yang unik, berbeda, orisinil, indah, efisiedn, tepat sasaran dan tepat guna. Kegiatan belajar mengajar di sekolah pada hakekatnya dilaksanakan untuk meningkatkan dan mengembangkan kreativitas siswanya, melalui interaksi dan pengalaman belajar (Mulyasa, 2007:105). Pada dasarnya siswa di sekolah tidak hanya dituntut untuk menerima materi pelajaran bagi guru. Siswa juga diberikan kesempatan untuk berusaha mengembangkan kreativitas yang ada pada dirinya dengan bantuan guru.
Kreativitas siswa di dalam kelas ditandai dengan partisipasi siswa secara aktif dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Menurut Slameto (2005:149) kreativitas merupakan suatu bentuk aktivitassiswa yang dilaksanakan dengan berbagai cara dan kesempatan dalam meghadapi berbagai situasi belajar. Menurut Gagne dalam Hamalik (2004:180) kreativitas merupakan suatu bentuk pemecahan masalah yang melibatkan suatu kombinasi gagasan-gagasan yang bersumber dari berbagai bidang pengetahuan yang terpisah secara luas.
Menurut Sund dalam Slameto (2003:147) menytakan bahwa individu dengan potensi kreatif dapat dikenal melalui pengamatan ciri-ciri sebagai berikut:
a.       Hasrat keingintahuan yang cukup besar
b.      Bersikap terbuk terhadap pengalaman baru
c.       Panjang akal
d.      Keingintahuan untuk menemukan dan meneliti
e.       Cenderung lebih menyukai tugas yang berat dan sulit
f.       Cenderung mencari jawaban yang luas dan memuaskan
g.      Memiliki dedikasi, bergairah, serta aktif dalam melaksanakan tugas
h.      Berfikir fleksibel
i.        Menanggapi pertanyaan yang diajukan serta cenderung member jawaban lebih banyak
j.        Kemampuan membuat analisis dan sintesis
k.      Memiliki semangat bertanya serta meneliti
l.        Memiliki daya abstraksi yang cukup baik
m.    Memiliki latar belakang membaca yang cukup luas
Tugas guru dalam upaya untuk meningkatkan daya kreativitas siswa adalah guru diharapkan selalu menanamkan rasa percaya diri kepada siswanya tentang apa yang telah dikerjakannya. Kepercayaan diri pada siswa dapat meningkatkan keyakina siswa bahwa ia mampu memecahkan masalah-masalah yang dihadapi.
Hal-hal yang dapt dilakukan oleh guru untuk mendorong tingkah laku kreatif siswa, menurut Torrance dalam Slameto (2005:156) adalah sebagai berikut:
Berdasarkan pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa sikap guru yang mau menghargai dan mendengarkan setiap gagasan dan pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan oleh siswa dapat mendorong untuk bertingkah laku kreatif. Guru tidak boleh menganggap pendapat-pendapat  siswanya itu rendah, tetapi selalu antusias untuk mendengarkan pendapat-pendapat tersebut.
Daya kreativitas siswa akan nampak pada tingah laku yang ditunjukkan dalam kegitan belajar mengajar. Menurut Sund dalam Slameto bahwa individu dengan potensi kreatif dapat dikenali melalui pengamatan sebagai berikut:
1.      Memiliki hasrat keingintahuan
2.      Cara siswa dalam melaksanakan tugas
3.      Cara siswa menanggapi pertanyaan yang diajukan guru
4.      Semangat bertanya dan meneliti
5.      Latar belakang membaca siswa    

2.6  Hubungan Metode Eksperimen dengan Kreativitas Siswa dalam Pembelajaran IPA
      Pendidikan IPA di sekolah dasar diarahkan untuk mencari tahu dan berbuat sehingga dapat membantu siswa untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang alam sekitar. Pembelajaran IPA merupakan cara  mencari tahu tentang alam secara sistematis untuk menguasai pengetahuan, fakta - fakta, konsep - konsep, prinsip - prinsip, proses penemuan, dan  memiliki sifat ilmiah. Dalam pelaksanaan pembelajaran IPA seorang guru harus dapat meningkatkan dan mengembangkan kreatifitas siswanya melalui interaksi dan pengalaman belajar. Oleh karena itu, untuk meningkatkan kreativitas siswa seorang guru harus mampu mengembangkan metode pembelajaran yang bisa menciptakan kreativitas siswa dalam proses belajar mengajar. Penggunaan metode eksperimen dalam pembelajaran IPA dipakai sebagai penunjang dalam pencapaian tujuan pembelajaran khususnya meningkatkan kreativitas siswa. Dengan metode inilah kreativitas siswa dapat meningkat secara optimal karena siswa dapat melakukan aktivitas pembelajaran secara langsung.

2.7  Hipotesis Penelitian
Kreativitas siswa dalam pembelajaran IPA kelas III SD pada pokok bahasan membuat karya sederhana dapat meningkat setelah menerapkan Metode Eksperimen.


BAB 3
METODE PENELITIAN

Pada bab ini akan dibahas tentang metode penelitian yang akan dilakukan pada penelitian ini yaitu meliputi waktu dan tempat penelitian, subyek penelitian, batasan masalah, definisi operasional, desain penelitian, metode pengumpulan data, dan metode analisis data.
3.1    Waktu dan Tempat Penelitian
Adapun waktu penelitian ini akan dilaksanakan sekitar 2 bulan . Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di kelas III di SDN Karanganyar 01 karena adanya masalah penggunaan metode pembelajaran yang menyebabkan kreativitas siswa rendah

3.2    Subjek Penelitian
Menurut Arikunto (1998:102), subjek penelitian adalah orang yang merespon atau menjawab pertanyaan-pertanyaan tertulis maupun lisan. Dengan demikian yang dimaksud subjek penelitian adalah orang yang dapat memberikan keterangan, penjelasan atau tanggung jawab terhadap suatu permasalahan yang sedang diselidiki.
Subjek penelitian dalam penelitian ini adalah siswa kelas III SDN Karanganyar 01 sebanyak 26 siswa, dengan rincian siswa laki-laki berjumlah 12 siswa dan siswa perempuan berjumlah 14 siswa.

3.3    Batasan Penelitian
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh penerapan metode eksperimen terhadap kreativitas siswa kelas III SD mata pelajaran IPA pokok bahasan membuat karya sederhana.

3.4    Definisi Operasional
a.      Kreativitas Siswa
Kreativitas siswa yang diamati dalam penelitian ini adalah tingkah laku siswa selama mengikuti kegiatan pembelajaran yang meliputi : memperhatikan penjelasan guru, presentasi, menjawab pertanyaan, serta diskusi.
b.      Metode Eksperimen
Metode eksperimen dalam penelitian ini secara operasional didefinisikan sebagai suatu cara belajar siswa untuk mencoba, menguji, serta mencari dan menemukan jawaban pasti suatu masalah sehingga setelah percobaan selesai siswa dapat menyimpulkan apa yang telah dikerjakan sesuai prosedur di LKS yang disusun oleh guru.

3.5    Desain Penilitian
Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Hakikat PTK adalah upaya tindakan yang dilakukan secara terencana dan sistematis untuk memecahkan masalah pembelajaran di kelas yang dihadapi oleh para guru sehari-hari (Sunardi, 2008; 6). Perencanaan penelitian tindakan ini menggunakan prosedur kerja Kemmis dan Taggart dengan dua siklus. Tiap siklus terdiri dari :
a)      Perencanaan
Kegiatan perencanaan pada siklus I ini adalah membuat silabus, RPP IPA pokok bahasan membuat karya sederhana dengan menerapkan metode eksperimen. Menyusun daftar kelompok, menyusun skenario cerita, serta membuat pedoman observasi, tes dan wawancara
b)      Tindakan
Tahap pelaksanaan, untuk kegiatan awal akan disampaikan tujuan pembelajaran yang diharapkan siswa akan dapat memahami materi yang akan disampaikan. Pada tahap ini ditunjukkan dengan kegiatan pelaksanaan belajar-mengajar sesuai dengan RPP.
c)      Observasi
Kegiatan observasi dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan tindakan. Observasi dilakukan untuk memperoleh gambaran kreativitas siswa dalam kegiatan pembelajaran di kelas. Observasi terhadap kreativitas siswa saat pembelajaran berlangsung dilakukan dengan menggunakan pedoman observasi kreativitas siswa sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan
d)     Refleksi
Refleksi merupakan upaya untuk mengkaji atau memberikan kesimpulan tentang penelitian yang telah dilakukan.
Apabila siklus pertama belum tercapai target penelitian, maka dilakukan siklus berikutnya sehingga tercapai tujuan target penelitian. Penelitian dihentikan setelah target penelitian tercapai.

3.6    Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data dimaksudkan untuk memperoleh bahan-bahan yang relevan dan akurat yang dapat digunakan dengan tepat sesuai dengan tujuan penelitian. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah: 1) metode observasi, 2) metode wawancara, 3) metode tes, 4) dokumentasi
a)      Metode observasi
Metode observasi dalam penelitian ini digunakan untuk memperoleh data kualitatif dengan mengamati tindakan siswa dalam pembelajaran IPA pokok bahasan Membuat Karya Sederhana. Observasi pada siswa diarahkan pada keseriusan, perhatian, dan partisipasi siswa dalam mengikuti pembelajaran
b)      Metode Wawancara
Metode wawancara digunakan untuk memperoleh data tentang tanggapan siswa dan guru mengenai pembelajaran IPA sebelum pelaksanaan penelitian. Wawancara dilakukan kepada guru kelas III digunakan untuk mengetahui adanya kendala-kendala yang dihadapi dan kesalahan-kesalahan yang sering dilakukan oleh siswa dalam pembelajaran IPA, sedangkan wawancara kepada siswa dilakukan untuk mengetahui kendala-kendala yang dialami siswa selama pembelajaran IPA. Wawancara juga dilakukan setelah penelitian digunakan untuk mengungkap penerapan metode Eksperimen dalam IPA khususnya pokok bahasan membuat karya sederhana, serta kesulitan-kesulitan yang dialami siswa selama mengikuti pembelajaran IPA.
c)      Metode Tes
Tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan serta alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok (Arikunto, 2006:150). Metode tes ini digunakan untuk mengetahui kemampuan siswa dalam memahami dan menguasai materi. Dalam penelitian ini jenis tes yang digunakan adalah isian singkat dan uraian, karena jenis tes ini dapat memunculkan kreativitas siswa dalam berfikir. Soal tes dibuat sendiri oleh peneliti dengan merujuk pada buku, tujuan pembelajaran dan kerjasama dengan guru kelas
d)     Metode Dokumentasi
Metode dokumentasi dalam penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mencari data mengenai biodata siswa dan kemampuan siswa jika dilihat dari daftar nilai siswa. Adapun sumber data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah:
1.      Biodata siswa
2.      Daftar nilai siswa

3.7    Metode Analisis Data
Penelitian ini menggunakan indikator deskriptif untuk menganalisa data. Data diperoleh dari hasil observasi awal sebelum tindakan dan observasi pada saat peneliti melaksanakan tindakan, yaitu hasil observasi mengenai penilaian daya kreativitas.
Penilaian proses belajar mengajar, untuk mengukur tingkah laku ndi denganindikator yang sesuai dengan keinginan peneliti yaitu ndi tinggi, sedang, rendah, atau baik, sedang, kurang. Menurut Nana Sudjana (1991:77-78) dalam penilaian proses belajar mengajar, rentangan nilai/skor yng digunakan ndi dalam bentuk angka (1,2,3,4). Penilaian daya Kreativitas Siswa dalam penelitian ini menggunakan skor 1-5. Untuk mengetahui Kreativitas Siswa terhadap metode eksperimen digunakan hal-hal sebagai berikut:
1.      Aspek-aspek yang diamati pada setiap masing-masing indikator kreativitas siswa dapat dilihat pada indikator 3.2 berikut:
Indikator
Aspek yang diamati
1.      Memiliki hasrat keingintahuan
a.       Siswa tidak takut untuk bertanya
b.      Siswa juga berusaha bertanya kepada teman apabila ada materi yang belum jelas
c.       Siswa selalu bertanya kepadaguru mengenai hal-hal yang berkaitan dengan materi
d.      Apabila siswa merasa tidak puas dengan jawaban guru, mereka akan terus bertanya sampai puas
2.      Cara siswa menghadapi pertanyaan yang diajukan guru
a. siswa dapat dengan cepat memahami pertanyaan guru
b. siswa selalu menjawab dengan benar
c. jawaban yang diberikan siswa berdasarkan jawaban sendiri bukan dari teman
d. jawaban siswa bervariasi dan sesuai dengan pertanyaan guru
3.      Semangat bertanya dan meneliti
a.       Siswa melontarkan pertnyaan-pertanyaan
b.      Pertanyaan siswa lebih ditekankan pada fakta-fakta dari jawaban yang diberikan oleh guru
c.       Pertanyaan siswa bersifat menyelidik
d.      Isi pertanyaan siswa lebih mengarah ke bentuk pemahaman dan hana pengertian
4.      Latar belakang membaca siswa
a.       Siswa dapat menjawab pertanyaan guru dengan benar meskipun belum diterangkan
b.      Apabila diberi pertanyaan jawaban yang diberikan siswa tidak terpaku pada satu buku
c.       Siswa mempunyai pendapat dan gagasan
d.      Siswa dapat menyelesaikan tugas yang diberikan dengan cepat dan tepat

2.      Menentukan skor siswa untuk masing-masing indikator dilakukan dengan cara sebagai berikut:
Skor 5 diberikan pada siswa yang memenuhi 4 aspek yang diamati
Skor 4 diberikan pada siswa yang memenuhi 3 aspek yang diamati
Skor 3 diberikan pada siswa yang memenuhi 2 aspek yang diamati
Skor 2 diberikan pada siswa yang memenuhi 1 aspek yang diamati
Skor 1 diberikan pada siswa yang tidak memiliki satupun aspek yang diamati
3.      Menghitung kreativitas rata-rata pada masing-masing indikator dengan rumus
Skor rata-rata kreativitas siswa (X) =
4.      Menghitung skor rata-rata kreativitas siswa dengan rumus:
Jumlah skor rata-rata kreativitas siswa (X) =
(Bashori, 2008:36)



Tabel 3.3 Kategori kreativitas siswa
Skor rata-rata
Kategori
1,0 – 1,99
2,0 – 2,99
3,0 – 3,99
4,0 – 4,99
> 4,99 atau 5,00
Sangat rendah
Rendah
Sedang
Tinggi
Sangat tinggi
Sudjana dalam Zelvia (2007)

3.8    Indikator Pencapaian
Adapun indikator keberhasilan aktivitas siswa kelas III mata pelajaran IPA SDN Karanganyar 01 harus mencapai kriteria standart ketuntasan minimum, dinyatakan sebagai berikut :
a)      Kreativitas Siswa
Kreativitas seorang siswa pada mata pelajaran IPA dinyatakan berhasil apabila mencapai ≥ 5,00 dari skor maksimum 100

b)      Metode Eksperimen
       Keterampilan guru dalam menerapkan metode eksperimen pada pembelajaran sesuai prosedur.




Daftar Pustaka

Arikunto, S. 1998. Penilaian Program Pendidikan. Jakarta: Bina Aksara.
Piaget, Winataputra. 2007. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.
DEPDIKNAS, 2006. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta: Depdikbud.
 DEPDIKNAS, 2007. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Sekolah Dasar. Jakarta: Badan Standar Nasional Pendidikan.
Roestiyah. 1998. Metodelogi Penelitian dan Teknik Penyusunan Skripsi. Jakarta: Rineka Cipta.
Roestiyah. 1991. Belajar Secara Efektif. Jakarta: Puspa Swara.
Nasution. 2000. Perencanaan Pengajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
Sadirman. 2004. Perencanaan Pengajaran. Jakarta: Depdikbud dan Rineka Cipta.

2 komentar:

  1. Did you know there is a 12 word phrase you can tell your crush... that will induce deep feelings of love and impulsive attractiveness for you deep inside his heart?

    That's because deep inside these 12 words is a "secret signal" that fuels a man's instinct to love, treasure and care for you with his entire heart...

    ====> 12 Words Will Fuel A Man's Love Instinct

    This instinct is so built-in to a man's mind that it will drive him to work better than ever before to build your relationship stronger.

    As a matter of fact, fueling this mighty instinct is absolutely mandatory to having the best ever relationship with your man that the moment you send your man one of the "Secret Signals"...

    ...You'll instantly notice him open his mind and heart to you in a way he never experienced before and he will see you as the only woman in the galaxy who has ever truly appealed to him.

    BalasHapus